Rabu, 24 May 2017

Keluarga Hebat

Hidup Sederhana, Basarudin Tanamkan Kebiasaan Belajar (Bag 2)

16 Jan 2017 11:38:10


Hidup Sederhana, Basarudin  Tanamkan Kebiasaan Belajar (Bag 2)

SAHABAT KELUARGA- Basarudin (68) hanyalah seorang nelayan dengan rata-rata penghasilan perbulannya sekitar Rp1,5 – Rp2 juta. Ia pun hanya tamatan SMP dengan istri, Samsilah (70) yang tidak tamat SMA.

Rumahnya sangat sederhana di sebuah jalan kecil di Desa Linau, Kecamatan Maje Kabupaten Kaur, Bengkulu. Untuk menuju ke Kota Bintuhan, Ibukota Kabupaten Kaur, memerlukan waktu sekitar 1 jam perjalanan dengan kendaraan bermotor.

Saat ditemui Tim Sahabat Keluarga pada Desember 2016 lalu, Basarudin menegaskan, walaupun kehidupannya sangat sederhana, ia menginginkan agar anak-anaknya sekolah setinggi-tingginya dan memiliki kehidupan yang lebih baik dari orang tuanya.

Bagaimana caranya? Dikatakan Basarudin, pada tiga orang anaknya yang semuanya perempuan, ditanamkan keinginan untuk selalu belajar dengan rajin dan tekun. Ditanamkan juga, bahwa kesempatan hanya datang satu kali, tidak datang dua kali dan tugas anak-anak hanya belajar dan sekolah.

“Jujur saja, soal caranya bagaimana,  saya acungkan jempol pada ibunya anak-anak. Ia yang secara praktek melaksanakan, bagaimana mengawal dan membimbing anak-anak untuk belajar, belajar, dan belajar, “katanya.

Namun diakuinya, sebagai ayah, ia hanya mampu sebatas menanamkan pemikiran dan konsep tentang manfaat belajar yang rajin dan tekun. Basarudin juga menegaskan, walaupun hanya berprofesi sebagai nelayan dengan penghasilan perbulan hanya sekitar Rp1,5 sampai Rp2 juta, ia berani ngambil utang dari siapa saja kalau untuk urusan sekolah anak-anak.

Yang jelas, katanya, semua anak-anaknya diwajibkan sudah ada di rumah sebelum Maghrib. Setelah diberi nasehat setelah sholat Maghrib, yang dilanjutkan makan malam bersama, maka sampai jam 10 malam semuanya diharuskan belajar dengan ditemani ibunya. “Bila ada ulangan atau ujian, ibunya selalu menemani sampai ia tertidur di kamar anak. Pukul 3 dini hari, ibunya bangun lantas membangunkan anak-anaknya untuk kembali belajar, “ujarnya.

Namun, diakui Basarudin, dari ketiga anaknya, hanya anaknya yang kedua, yakni Yunita Purnama Sari, yang sejak kecil sudah terlihat menonjol, baik dari sisi ketekunan maupun kemampuan otaknya. Yang tertua, Yulia Astuti (26) dan yang bungsu, Salsabila (9), biasa-biasa saja. “ Sari sejak kecil kelihatan sudah kutu buku. Buku apapun ia baca, ia sering pinjang dari saudara atau temannya. Yang bungsu malahan agak susah belajar. Mungkin karena terlalu dimanja, “katanya.

Soal Yunita atau Sari, ia mengenang, saat  dipanggil kepala sekolah dan diberitahu, bahwa Sari meraih ranking pertama di sekolah, Basarudin sempat menangis sehingga ditanya kepala sekolah. “Gimana saya tidak menangis, melihat prestasi Sari sementara kemampuan ekonomi saya sangat terbatas, lantas mau dibawa kemana anak saya ini, “katanya lirih.

Pikiran itu terus menggelayut di benar Basarudin  selama Sari bersekolah di SMA Negeri 1 Kaur dan sampai kelas 12, Sari selalu menempati rangking pertama. Pikiran dan doa Basrudin rupanya terjawab. Atas bantuan dan dorongan pihak sekolah, Sari, bersama dengan seorang temannya, akhirnya terpilih melanjutkan pendidikan tinggi melalui Program Bintang Jemput Bintang yang digelar Pemerintah Kabupaten Kaur. Tak tanggung-tanggung, Sari dapat melanjutkan pendidikan tingginya yakni BSc Honours atau setara S1 di Newcastle University, Inggris, tahun 2014 lalu dengan program studi bidang Food and Human Nutrition.

Saya berterimakasih pada Pemda Kabupaten Kaur, dengan adanya Program Bintang Jemput Bintang (BJB), anak saya bisa terpilih untuk melanjutkan pendidikan tinggi di luar negeri. Bagi kami sekeluarga, sangat gembira, kalau biaya sendiri, ngga mungkin, “ katanya.

Namun, walau menekankan pada anak-anaknya untuk belajar dan sekolah, Basarudin tidak mengekang pergaulan anak-anaknya walau tetap ada batasan-batasan yang harus dipatuhi. Baginya, anaka-anaknya boleh bergaul dengan siapapun namun dengan orang yang sudah diketahui bermoral dan berperilaku baik serta diketahui siapa keluarganya.

Basarudin mengaku bersyukur, bahwa Sari sejak SMA tidak terlihat dekat dengan laki-laki. “Kalau ada teman laki-laki datang ke rumah, ya rombongan, tapi kalau datang sendiri, saya belum pernah lihat. Saya sebenarnya sudah percaya betul pada Sari bahwa ia pasti sudah bisa membawa diri. Saya juga merasa sudah menanamkan akhlak sejak kecil, “ katanya.

Menurutnya, ada satu ungkapan dalam bahasa Bengkulu yang selalu ditanamkan pada anak-anaknya, yaitu “Kalau ndk nginak urang ke hulu, bayak  urang ke hulu, kalau ndk nginak urang kehilir, bayak urang ke hilir” yang artinya kira-kira, kalau mau jadi orang sukses, lihatlah orang yang sukses. Yanuar Jatnika

Berita Terkait:

Orang Tua menjadwal ketat proses belajar Sari