Selasa, 17 October 2017

Keluarga Hebat

Orang Tua Menjadwal Ketat Proses Belajar Sari (Bag 1)

13 Jan 2017 17:13:35


Orang Tua Menjadwal Ketat Proses Belajar Sari (Bag 1)

SAHABAT KELUARGA- Turun  tangannya orang tua,  entah itu ibu atau ayah, dalam proses pembelajaran anak-anaknya di rumah, dapat mendorong motivasi belajar anak. Hal itu dirasakan betul oleh Yunita Purnama Sari. Wanita belia kelahiran tahun 1994 itu merasakan betul, bagaimana peran aktif ibunya, Samsilah (70), dalam mendorongnya untuk belajar,belajar, dan belajar, sehingga dirinya meraih prestasi di sekolah.

Hasilnya, sejak SD sampai SMA, Sari..nama panggilannya.....selalu meraih ranking 1. Tak berhenti sampai di situ, lulus SMA, melalui Program Bintang Jemput Bintang yang digelar Pemerintah Kabupaten Kaur, Propinsi Bengkulu, anak kedua dari tiga bersaudara ini sukses melanjutkan pendidikan BSc Honours atau setara S1 di Newcastle University, Inggris, tahun 2014 lalu dengan program studi bidang Food and Human Nutrition.

 “Sejak SD, Bapak dan Ibu sudah mengenalkan sistem pembelajaran di rumah. Misalnya ibu, menerapkan  waktu belajar yang ketat, terutama saat mau ulangan, ujian, atau ikut lomba. Kapan waktu belajar, kapan tidur, kapan bangun untuk belajar lagi, “ kata Sari.

Tim Sahabat Keluarga secara kebetulan bertemu dengan Sari yang sedang pulang ke rumah orang tuanya di Desa Linau Kecamatan Maje, Kabupaten Kaur, Bengkulu, Desember 2016 lalu. Ia pulang ke Indonesia sebelum menjalani magang atau praktek kerja di PT Indofood Sukses Makmur, Jakarta, pada Januari 2017 lalu yang rencananya akan berlangsung sampai pertengahan 2017 mendatang.

Di tengah liburannya itu, Sari berkesempatan untuk memotivasi adik-adiknya di almamaternya, yakni di SMAN 1 Kaur, dalam kelas Inspirasi. “Saya menceritakan proses perjuangan dan pengorbanan untuk meraih juara kelas dan berhasil kuliah di Inggris. Saya berharap adik-adik kelas saya termotivasi untuk mencapai cita-citanya, “katanya.

Sari juga mengenang, setiap dirinya belajar, ibunya selalu menemaninya bahkan hingga tidur di kamar Sari. “Tidur di kamar saya, jam 3 dini hari membangunkan saya untuk kembali belajar, “kenangnya.

Dengan model pengasuhan seperti itu, Sari menjadi terbiasa belajar seperti yang dialami itu sampai SMA, bahkan saat ia nge-kost di dekat sekolahnya. Sari nge-kost karena jarak rumahnya dengan sekolah agak jauh dan minim transportasi.

Menurut Sari pula, sebelum masuk SD, ia tak ikut pendidikan di taman kanak-kanak. Namun di rumah, ia sudah diajarkan membaca dan berhitung sehingga saat masuk SD, tak kalah dengan teman-temannya yang lebih dahulu masuk taman kanak-kanak.

Saat di SMP dan SMA, kenang Sari, ayahnya selalu mengumpulkan keluarganya setiap selesai Sholat Maghrib untuk diberi nasehat, diberi motivasi agar belajar yang rajin, tidak bermalas-malasan. “Ayah selalu mengingatkan, bahwa kita ini berasal dari keluarga tidak mampu, jadi harus punya motivasi, harus menunjukkan bahwa walau tidak mampu, mampu bersekolah dengan baik dan setinggi mungkin, “katanya.

Soal bergaul, tambah Sari, orang tuanya membebaskan dengan batasan-batasan tertentu. Misalnya, kalau ada teman mengajak bermain, orang tuanya meminta bermain di sekitar rumah, dan menjelang Maghrib harus ada di rumah, tidak keluyuran lagi.

Kalaupun karena ada keperluan harus pergi agak jauh, harus dengan teman yang sudah dikenal baik oleh orang tua. “Tapi mungkin karena kita sejak kecil sudah diajarkan mana yang baik dan mana yang buruk, maka saat remaja, kita sudah bisa menilai sendiri dalam hal memilih teman dan bergaul, “ujar Sari.  Yanuar Jatnika

Bersambung

1. Hidup Sederhana, Basarudin Tanamkan Kebiasaan Belajar