Kamis, 17 August 2017

Umum

Membuat Anak Senang Belajar

16 Jun 2017 13:26:34


Membuat Anak Senang Belajar

SAHABAT KELUARGA - “Ayoo ..jangan nonton tivi melulu, kerjakan PRnya”, 

“Ya ampuun… Dari tadi maiiin aja kerjanya, udah tau besok mau ujian, ayo dibaca-baca bukunya!”, atau..

Aduuhh.. Anak ini kok ngga bisa diem, belajar tuh duduuk..”

Kalimat-kalimat itu terasa sangat familiar bagi kita. Kalimat yang ditujukan orang tua untuk anak-anaknya. Tidak saja ketika libur, bahkan pulang dari sekolahpun demikian. Meski setiap kali kalimat serupa tersebut muncul, jawaban yang diterima orang tua juga seringkali sama, ”Iya buun.. sebentaar”. Tapi orang tua tetap saja meneriakkan instruksi atau perintah yang sama untuk satu hal: belajar!

Mengapa anak enggan belajar? Mengapa anak lebih memilih bermain, dibanding untuk belajar? Topik inilah yang dikupas dalam bincang-bincang yang santai tapi seru di Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, Selasa (13/6/2017) lalu bersama praktisi pendidikan keluarga dan konsultan pendidikan, Munif Chatib.  

“Jika mengatakan belajar adalah baca buku, latihan soal, atau mengerjakan PR, tentu saja anak memilih bermain, dibanding belajar. Karena dalam bermain, anak merasa dapat memerankan dirinya sendiri, tidak ada yang menyuruh. Ketika bermain, anak juga merasa fun, menyenangkan. Perasaan inilah yang membuat anak berpikir bahwa bermain lebih memiliki manfaat, yang dirasakan saat itu juga, yaitu senang,“ jelas Munif Chatib yang menjadi narasumber utama dalam bincang santai itu.

Penulis buku Gurunya Manusia ini menambahkan, ada tiga ciri anak dalam proses belajarnya, antara lain, anak merupakan mahluk pembelajar, sifat dasar manusia termasuk anak adalah memerintahkan dirinya sendiri dan manusia melakukan reaksi terhadap perintah dari lingkungannya jika dibekali dengan perbuatan atau stimulus khusus.

Ketiga ciri tersebut telah dikaruniakan Tuhan sejak manusia lahir. Keingintahuan atau sering dikatakan sebagai rasa penasaran ini, bisa dilihat ketika proses inisiasi menyusui dini (IMD). Ketika bayi baru keluar dari rahim, kemudian diletakkan di atas dada ibunya, maka bayi akan merangkak sendiri untuk mencari dan sesegeranya menghisap air susu ibu (ASI) nya.

Dalam hal ini, stimulus berupa meletakkan bayi di atas dada ibunya, kemudian anak akan memerintahkan dirinya sendiri untuk mencari dan menghisap ASI. Menghisap ASI adalah pertanda bahkan sejak bayipun anak sudah senang belajar, ketika dia merasa membutuhkannya.

Tetapi ketika bayi bertumbuh dan makin besar, maka proses belajarnya makin kompleks. Apalagi saat anak telah duduk di bangku sekolah. Hal ini bukan saja tantangan bagi sang anak, namun juga buat orang tua dan guru di sekolah, agar anak menyenangi kegiatan belajarnya.

Setidaknya ada 5 kiat yang dapat dilakukan oleh orang tua maupun guru, yakni:

1. Ajak anak belajar ketika otaknya sudah segar

Ajak anak belajar ketika anak sudah cukup istirahat, kenyang, sehingga segar lagi badan dan otaknya. Dikatakan oleh Munif, sekira pukul 19.30 biasanya otak anak sudah segar kembali. Ajak anak belajar di waktu ini, atau di pagi hari setelah sholat shubuh.

2. Buat cerita pendahuluan (stimulus) agar materi belajar menarik

Hindari memerintah ketika mengajak anak untuk belajar, namun stimulasi anak dengan cerita, kisah, atau renungan tertentu. Misalnya, ketika orang tua mengajak anak membaca atau menghafal surat dalam Al Qur’an, orang tua bisa membuat analogi dengan cara mematikan lampu di ruangan ketika hari masih gelap.

Biasanya anak akan kaget, dan berkata, ”gelaap bun..” orang tua dapat mengatakan, “nah.. begitulah kondisinya ketika kakek di dalam kubur saat ini, gelap dan sendiri, tapi, kalau  mau kuburan kakek terang, seperti ini (sambil menyalakan lagi lampu ruangan), maka bantu dengan baca dan hafalin Qur’an yuuk.”

Dengan stimulasi seperti ini, setidaknya anak akan memahami manfaat belajar dalam kehidupannya. Munif menghimbau agar orang tua atau guru kreatif sehingga memiliki banyak ragam stimulasi untuk mengajak anak belajar.

3. Kenali gaya belajar anak

Ibaratnya orang akan meminum air minum dalam kemasan, maka berbeda-beda cara untuk membuka kemasannya. Jika kemasannya berupa botol, maka putar tutup botolnya hingga terlepas dan terbuka botol kemasan air minumnya. Kalau kemasannya adalah gelas platik, maka untuk meminumnya adalah dengan menusuk tutup gelas dengan sedotan yang disediakan. Tetapi jika kemasannya adalah kaleng, maka ungkit penutupnya.

Demikian juga dengan anak-anak yang memiliki karakter dan gaya belajar yang berbeda-beda, perlu “cara masuk” yang berbeda sehingga proses belajar lebih nyaman dilalui oleh anak.

Untuk itu, penting bagi orang tua untuk mengetahui cara masuk bagi karakter dan gaya belajar anak yang berbeda. Ada gaya belajar anak yang memiliki kecenderungan kecerdasan lingusitik (bahasa), matematis logis, spasial visual, kinestetis, musik, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis.

4. Sesuaikan gaya belajar anak dengan gaya mengajar orang tua/guru

Gaya mengajar adalah berbagai cara untuk memasukan informasi dan keterampilan pada mereka pembelajar (learner). Anak dengan kecenderungan kecerdasan kinestetik (senang bergerak), maka ajak anak belajar dengan aktivitas gerak, memainkan peran, menyentuh, atau dengan permainan. Berbeda jika anak cenderung cerdas matematis, maka ajaklah anak belajar dengan menggunakan contoh, eksperimen (untuk membuktikan sesuatu), soal cerita atau problem nyata bahkan dengan mengajukan pertanyaan yang bersifat analisis.

5. Berikan apresiasi atas usaha anak dalam belajar

Meski sederhana, jangan pernah lupakan untuk mengatakan “kereen, top, well done!” atau sekedar mengacungkan dua jempol atas usaha anak dalam belajarnya. Orang tua atau guru dapat juga memberikan apresiasi dengan cara memajang hasil karya anak, atau memanfaatkan hasil belajar anak untuk banyak orang.

Misalnya, tulisan anak mengenai kebersihan dipampang sebagai bagian dari kampanye pola hidup bersih sehat di sekolah atau tong sampah yang telah dilukis oleh anak diletakkan di tempat umum, dan banyak cara lainnya.

Dalam kenyataan, kiat-kiat itu tidak semudah membalikkan kedua telapak tangan ketika dilaksanakan. Apalagi mereka anak-anak yang ada dalam situasi khusus seperti orang tuanya adalah pelaku kekerasan atau perundungan (bullying), ketidak harmonisan orang tua dan keluarga, serta situasi khusus lain.

Jika seperti itu situasinya, Munif menegaskan bahwa mendidik anak tidak hanya dilakukan oleh orang tua. Ketika orang tua tidak harmonis, atau melakukan kekerasan pada anak, misalnya, maka perlu kehadiran pihak ketiga. Bisa keluarga besar, dapat juga pihak sekolah, khususnya wali kelas siswa untuk melakukan mediasi atau membuka jalan penengah.

Jika pihak ketiga sudah hadir, namun masalah belum juga menemukan titik terang, maka penting untuk mengundang ahli untuk membantu. Bisa psikolog, pemuka agama, atau tokoh masyarakat. ”Adanya kerjasama yang baik di antara multi pihak menjadi syaratnya,” tegasnya.

Akhirnya ajaran Ki Hajar Dewantara menjadi semacam resep, bahwa keberhasilan pendidikan anak bergantung dari kerjasama tiga pusat: keluarga, sekolah dan masyarakat. (Sri Lestari Yuniarti, subdit Pendidikan Orang Tua, Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga)