Sabtu, 19 August 2017

Keluarga Hebat

Budaya Anu Beta Tubat Dukung Keberhasilan George Saa (3)

15 Jun 2017 12:38:29


 Budaya Anu Beta Tubat Dukung Keberhasilan George Saa (3)

SAHABAT KELUARGA- George Saa, si jenius dari Papua, mengakui, prestasi yang diraihnya selama ini tak lepas dari peran kuat ayahnya, Silas Saa, serta ibunya, Nelce Wafom.

Menurut George, ayahnya selalu menekankan pentingnya pendidikan kepada seluruh anak-anaknya. Ayahnya selalu menyemangati putra-putrinya untuk sekolah. Padahal menurut george, penghasilan ayahnya sebagai pegawai negeri sipil di Dinas Kehutanan Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat, tidak selalu mencukupi kebutuhan sekolah anak-anaknya.

George malah lebih senang menyebut ayahnya petani ketimbang pegawai. Sebab, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, ayah dan ibunya dan dibantu kelima anak mereka, harus mengolah ladang, menanam umbi-umbian untuk menambah penghasilan keluarga.

Namun mereka tidak pernah patah semangat. “Makan tidak makan, yang penting kamu sekolah,” kenang George.

Namun, diakui juga oleh George, semangat kedua orang tuanya menyekolahkan putra-putri mereka hingga jenjang sarjana didorong oleh budaya Maybrat yang kokoh. Maybrat merupakan suku di Papua yang kini menjadi salah satu Kabupaten di Papua Barat.

Budaya itu, kata George disebut dengan istilah anu beta tubat yang artinya Bersama Kita Mengangkat. “Ini semacam budaya gotong royong dalam hal pendidikan. Apabila ada seorang anak di Maybrat yang ingin sekolah, maka seluruh keluarga dan para saudara akan bergotong royong untuk membiayai anak tersebut. Semangat ini membuat Maybrat memiliki banyak anak yang bersekolah hingga sarjana, “ ujar George.

Menurut George, sejak kecil, dirinya terkenal sebagai anak yang aktif di keluarganya. Ia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi sejak sekolah dasar. “Saudara-saudara bilang saya tukang nanya sejak kecil,” ucap bungsu dari lima bersaudara ini tertawa.

George saat ini melanjutkan pendidikan S2 nya di Universitas Birmingham, Inggris, melalui beasiswa LPDP. Sebelumnya, ia menyelesaikan pendidikan S1 nya di jurusan aerospace engineering, Florida Institute of Technology pada tahun 2006 dengan beasiswa dari Freedom Institute. Kedua beasiswa itu tak lepas dari prestasinya yang mencenangkan dunia pada tahun 2004 lalu dengan memenangkan lomba  lomba First Step to Nobel Prize in Physics di Polandia.

Mengomentari prestasinya saat ini, George mengatakan, sejak kecil, ia tidak pernah menyangka bisa mengikuti kompetisi fisika tingkat dunia. Anak-anak seusianya di Papua biasanya tidak berani punya mimpi besar. “Dulu anak Papua itu cita-citanya kalau tidak jadi tentara, ya PNS,” ucapnya sembari tertawa.

George mengaku, semula ia merasakan beban yang sangat berat. Sebab, ia tidak hanya harus menjalani pelatihan yang super padat untuk mengikuti kompetisi dunia, namun ia juga membawa “nasib” masa depan pendidikan di papua. George adalah angkatan pertama pelajar papua yang dilatih. Jadi ia harus membuktikan bahwa anak Papua juga bisa menjadi juara kompetisi dunia. “Kalau kamu gagal, adik-adik kelasmu, para pelajar di Papua akan susah sekolah. Kamu harus bisa menjadi inspirasi buat mereka,” ujar George mengenang pesan Prof. Yohanes Surya kepadanya.

Ia ingin sekolah dan universitas di Papua mempunyai kualitas yang sama dengan sekolah dan universitas di pulau Jawa. Sehingga anak-anak asli Papua dapat bersekolah setinggi mungkin di tanah lahiran mereka. “Saya ingin anak-anak Papua menjadi insiyur, sehingga bisa membangun tanah kelahiran mereka sendiri,” ujarnya.   

Tahun depan, George akan lulus dari Inggris dan kembali ke Indonesia. Ia siap untuk meraih mimpinya memajukan pendidikan di Papua. “Kelak, apabila Presiden membutuhkan putra daerah Papua menjadi bagian penting di kabinetnya, Saya siap!,” ujar George menutup perbincangan dengan Sahabat Keluarga. Yohan Rubiantoro/Staf Kemendikbud yang sedang menempuh S2 di Universitas Birmingham, Inggris