Selasa, 17 October 2017

Sekolah Keren

SLB Negeri B Garut : Membangun Jiwa Anak dengan Dukungan Orang Tua (1)

14 Jun 2017 13:46:27


SLB Negeri B Garut : Membangun Jiwa Anak dengan Dukungan Orang Tua (1)

SAHABAT KELUARGA- Nabil Dhiya Ulhaq A’isy (16) nampak  rapih dengan seragam putih biru celana panjangnya. Gayanya cuek namun gerak-geriknya nampak gesit, cekatan, dan penuh inisiatif. Siswa kelas 9 SMP Luar Biasa Negeri B Kabupaten Garut itu terlahir dengan down syndrome.

Beruntung, ibunya, Popi Wargani pernah mempelajari  gejala-gejala down syndrome, sehingga, walaupun sempat sedih dan stress, Popi dan suaminya, Hendri Hendarsah, segera mempelajari  segala hal terkait down syndrome, terutama bagaimana memperlakukannya, memberikan pengajaran dan pendidikan, dan bagaimana melatihnya agar bisa hidup mandiri.

Saat usia Nabil mencapai 7 tahun, Popi mencari-cari sekolah luar biasa yang menurutnya baik, dalam arti kata, punya komitmen kuat untuk mengajar dan mendidik anak-anak berkebutuhan khusus sehingga saat lulus bisa mandiri, setidaknya untuk rutinitas keseharian. Popi pun akhirnya menemukan SLB Negeri B Kabupaten Garut.

“Saya melihat, SLB Negeri B ini punya komitmen kuat untuk memberi pelajaran dan pendidikan pada siswa-siswanya. Salah satu yang saya apresiasi dan menjadi dasar bagi saya untuk menentukan pilihan pada sekolah ini adalah kerjasama yang intensif antara pihak sekolah dan orang tua siswa, “tutur Popi saat ditemui   beberapa waktu lalu di ruang tamu sekolah itu.

Mulyawati, Kepala Sekolah SLB Negeri B Kabupaten Garut menuturkan, sudah lama sekali sekolahnya menjalin kemitraan dengan orang tua siswa. Menurutnya, kerjasama dengan orang tua siswa di sekolah luar biasa atau sekolah buat anak-anak berkebutuhan khusus sebenarnya suatu keniscayaan. “Anak-anak berkebutuhan khusus kan bisa dikatakan tergantung  pada orang lain, bahkan untuk tindak-tanduk yang sederhana sekalipun. Untuk itu orang tua harus berperan aktif, “katanya.

Peran aktif orang tua siswa, tambah Mulyawati, dimulai sejak anak didaftarkan. Diawali dengan digelarnya assessment test untuk menilai kemampuan calon siswa, lantas dilakukan dialog antara guru dengan orang tua siswa untuk lebih memahami profil calon siswa dan bagaimana perlakuannya secara tepat.

“ Hal itu mengingat, bahwa, meskipun ada dua orang yang memiliki keterbatasan yang sama, namun kadar atau tingkat keterbatasannya berbeda-beda. Hal itu akan membedakan perlakuan dari guru dan bagaimana menghadapinya, “ujarnya.

Dari hasil assessment test itulah segera dibentuk rombongan belajar (Rombel) yang masing-masing berisi maksimal 5 orang siswa dengan satu orang guru. Kecuali untuk siswa yang mengidap autis, dalam satu rombel hanya ada satu siswa, satu guru, dan satu guru pembantu.

Dari kelima siswa dalam satu rombel itu, masing-masing mempunyai kemampuan yang berbeda. “Keterbatasan yang sama, namun tingkatannya berbeda. Misalnya, sama-sama tuna rungu, namun ada yang sudah mampu merespons isyarat tangan dengan mudah, ada yang agak susah, dan ada pula yang harus belajar dari nol, “katanya.

Di SLB yang berlokasi di Jalan RSU No 62 Kelurahan Sukakarya Kecamatan Tarogong Kidul Kabupaten Garut itu sendiri ada sekitar 120 siswa mulai jenjang SD sampai SMA yang terdiri dari tuna rungu, tuna grahita, tuna daksa, dan autis.

Kembali ke Nabil, anak bungsu dari 3 bersaudara ini (Namun salah seorang kakaknya sudah meninggal), saat ini sudah bisa mandiri. Contohnya, seperti dikatakan Ibunya, Popi, bila pergi dan pulang sekolah, Nabil sudah berani naik  ojek sendiri, tanpa dikawal ibunya. Nabil juga sudah mulai mengenal uang dan sedang belajar belanja sendiri.

“Ia sudah tahu, kalau uang segini, belanja ini, kembaliannya segini, ia sudah mulai berpikir, walaupun untuk berkomunikasi masih terbatas pada beberapa suku kata saja, “kata Popi.

Nabil juga sudah diajarkan cara membuka komputer dan mengetik. “Ia sudah bisa membedakan, mana file punya ayahnya, mana punya kakaknya dan mana punya dirinya, “tambah Popi.

Kuncinya, lanjut Popi, pertama, rajin berkomunikasi dan berdialog dengan guru di sekolah. Dalam pertemuan itu, dibahas perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik anak. Bila sudah teridentifikasi, orang tua dan guru sepakat memberikan perlakuan yang sama antara di sekolah dan di rumah.

Selain itu, kedua pihak juga sepakat untuk memberi stimulus secara terus menerus pada si anak agar kognitif, afektif, dan psikomotoriknya berkembang.  Yanuar Jatnika