Kamis, 17 August 2017

Usia SMA/SMK

Sekolah Berasrama Tetap Harus Bermitra dengan Orang Tua

17 May 2017 16:47:27


Sekolah Berasrama Tetap Harus Bermitra dengan Orang Tua

SAHABAT KELUARGA- Sekolah berasrama atau boarding school kini banyak bertebaran di berbagai kota besar. Melalui sekolah berasrama tersebut, anak selama 24 jam sehari dan 7 jam seminggu berada dibawah pengawasan guru, pamong, dan pengelola asrama. Lantas bagaimana peran orang tua dalam mengasuh dan mendidik anak?

Komisioner dan Ketua Divisi Sosialisasi Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Erlinda, meminta orang tua tak menyerahkan sepenuhnya perkembangan anaknya di sekolah berasrama. Mereka diminta jangan lepas tanggung jawab. "Orang tua yang telah titipkan putra-putrinya, tak boleh lari dari tanggung jawab," kata Erlinda dalam diskusi “Peran Sekolah Berasrama dalam Membentuk Karakter Pribadi Unggul yang Berjiwa Kebangsaan dan Kebinekaan” di Jakarta, Selasa (16/5). Menurutnya, pengelola sekolah berasrama harus tetap melibatkan peran serta orang dalam tumbuh kembang anaknya di asrama. Erlinda mengingatkan, saat ini peran pendidikan tidak untuk mentransfer pengetahuan saja, tetapi juga pembangunan karakter.

Ia mengatakan hal itu dengan mengambil contoh kasus pembunuhan terhadap salah seorang siswa di SMA Taruna Nusantara yang pelakunya merupakan sesama siswa yang masih berumur 15 tahun.

Menurutnya, dalam kasus tersebut, permasalahannya bukan mengenai layanan sekolah, namun kemungkinan permasalahan psikologi peserta didik, sehingga penting melihat pendidikan mendatang yang akan mengedepankan pembangunan karakter.

"Orang tua yang titipkan anak di sekolah asrama tidak boleh lepas tanggung jawab. Orang tua tetap harus dilibatkan, jangan-jangan anak sedang alami goncangan psikologi," kata Erlinda.

Ia mengingatkan, jenjang pendidikan sekolah menengah merupakan level transisi dari masa remaja. Tidak banyak pendidik yang memahami, masa transisi itu membuat remaja ingin mengaktualisasi dirinya.

Deddi Nordiawan, alumni SMA Taruna Nusantara yang kini menjadi staf pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia memberikan kesaksiannya selama menjalani pendidikan di SMA tersebut. Ia mengatakan, di balik berbagai manfaat kehidupan berasrama terdapat persyaratan mendasar yang harus dipenuhi siswa sebelum masuk sekolah berasrama.

“Banyak orang tua yang tidak mengetahui, atau jika pun mengetahui mereka tidak mau menerima, bahwa kondisi psikologis anak mereka tidak cocok untuk masuk ke sekolah berasrama, “ujarnya. Pengamat sekaligus aktivis pendidikan yang pernah menjadi staf khusus Mendikbud saat di jabat Anies Baswedan, Ahmad Rizali, menceritakan pengalamannya mendirikan dan membina sekolah berasrama, yakni Sekolah Berasrama Al Kautsar di Parung Kuda, Sukabumi.

Menurutnya, anak yang tidak siap secara mental namun dipaksakan oleh orang tua untuk masuk ke sekolah akan dapat merusak sistem pendidikan berasrama yang sebenarnya sudah bagus berjalan. Oleh karena itu, sekolah harus tegas untuk menolak.

Ketua Umum Ikatan Alumni SMA Tunas Nusantara (Ikastara), M. Rachmat Kaimuddin, mengatakan, SMA Taruna Nusantara di Magelang merupakan salah satu perintis sekolah berasrama. SMA Taruna Nusantara didesain secara khusus untuk mendidik pemuda-pemudi Indonesia agar memiliki keunggulan di tiga aspek yaitu akademis, kesiapan jasmani, dan kepribadian. Berdiri pada tanggal 14 Juli 1990 sebagai bentuk kerjasama TNI dan Taman Siswa.

“SMA Taruna Nusantara kemudian menjadi Kawah Candradimuka manusia-manusia Indonesia agar dapat menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta berbagai kemahiran modern lainnya dengan tetap berkepribadian Pancasila, “tegasnya.  Yanuar Jatnika