Sabtu, 24 June 2017

Usia PAUD

Kiat Mendampingi Anak yang Ingin Mencoba Ragam Pengalaman

15 Mar 2017 09:53:15


Kiat Mendampingi Anak yang Ingin Mencoba Ragam Pengalaman

SAHABAT KELUARGA – Pernahkah kita berpikir mengapa seorang anak melakukan sesuatu? Setiap gerakan  pada seseorang tentu memiliki motivasi. Entah motivasi dari dirinya sendiri (intrinsik) maupun motivasi yang berasal dari luar (ekstrinsik).

Motivasi itulah yang mendorong manusia melakukan sesuatu, termasuk di dalamnya adalah apa yang dilakukan oleh anak-anak. Anak-anak melakukan sesuatu tentu karena dorongan tertentu yang disebut motivasi.  Adanya keingintahuan, adanya keinginan bebas, adanya keinginan untuk berinteraksi, atau keinginan untuk mengaktualisasikan diri, merupakan dorongan anak untuk berbuat sesuatu.

Anak-anak mencoba membuka-buka mainan mobil-mobilannya, karena terdorong oleh rasa penasarannya atau keingintahuannya apa yang ada di dalamnya.

Seorang anak mencoba bermain hujan-hujanan, karena terdorong ingin menikmati kebebasan. Seorang anak  mencoba mendengar dan mengganggu pembicaraan orang tuanya saat menjamu tamu, karena terdorong rasa ingin berinterkasi. Dan seorang anak yang  mencorat-coret tembok rumahnya dengan gambar mobilnya, karena terdorong oleh rasa ingin mengaktualisasikan dirinya. Itu semua adalah dorongan yang ada dalam dirinya.

Dorongan-dorongan itu akan diungkapkan atau diaktualisasikan oleh anak-anak sesuai dengan alam pikirannya. Barangkali bagi orang tua, aktualisasi mereka dianggap kurang pas, kurang sopan, kurang  beretika, dapat mencelakakan dirinya, dan lain sebagainya. Namun  tidaklah demikian sesungguhnya.

Menjadi hal yang keliru jika orang tua dan guru akan menyalahkan mereka. Karena apa yang dilakukan mereka adalah dorongan mereka sendiri yang sejalan dengan alam pikirannya. Larangan orang tua dan guru justru menjadi penghambat mereka. Maka wajar ketika mereka dilarang atau dihambat, kemudian mereka akan memberontak, melawan, atau tak menghiraukannya.

Lalu pertanyaannya apa yang mereka mau?  Mereka mau dengan kebebasan. Namun tentu kebebasan  sebatas  apa yang mereka pikirkan. Batas kebebasan mereka tentu tak sama dengan kebebasan orang dewasa, karena alam pikiran mereka pun masih sangat terbatas bahkan bisa dikatakan sangat minim.

Mereka ingin melakukan sesuatu hanya sejauh  kemampuan yang dimiliki. Sebagai contoh; anak-anak akan mencoba naik pohon sejauh kemampuannya naik. Jadi dia tidaklah mungkin akan naik pohon, setinggi yang dia tak mampu.

Seorang anak akan bermain hujan-hujanan saat mereka belum merasakan dinginnya air hujan. Maka ketika sudah menggigil, dia  tentu akan berhenti dengan sendirinya kemudian minta pertolongan dari orang-tuanya. Demikian pula anak yang ingin menggambar mobil di tembok rumahnya. Maka dia akan berhenti ketika dia sudah merasa puas.

Dengan demikian sebenarnya keinginan mereka sangatlah terbatas. Dan tidaklah berlebihan. Lalu apakah hal itu sangat mengkhawatirkan? Rasanya tidak, sepanjang orang tua atau guru mendampingi mereka dan menyediakan sarana atau fasilitas yang mereka butuhkan.

Jika mereka ingin menggambar mobil di tembok, orang tua tentu harus mengarahkan dan menyediakan papan tulis yang mereka butuhkan, agar tembok tidak menjadi kotor dan keinginan anak terpenuhi.  

Jika anak ingin naik pohon, kenapa mesti dilarang sepanjang orang tua mengawasi, mendampingi, bahkan mungkin memberi akomodasi keselamatannya. Mereka harus mendapat pendampingan secara terus menerus, bukan cuma mendapat kemarahan belaka.

Lihatlah tentang kebebasan orang tua yang diberikan kepada anak-anak mereka yang tinggal di daerah pantai. Mereka mendampingi anak-anaknya sebelum anaknya mampu beradaptasi dengan laut dan ombak. Mereka tidak melarang anak-anak mereka turut serta duduk di perahu kecilnya mengarungi lautan dahsyat yang  sekali waktu dapat menelan jiwanya.

Lihat pula anak-anak di pedalaman yang rumahnya di atas pohon. Lihatlah bagaimana seorang anak kecil harus merambat menaiki tangga yang cukup tinggi untuk masuk ke rumahnya. Mereka tidak dilarang, tidak dikhawatirkan secara berlebihan karena mereka justru harus bisa. Bagaimana jika mereka dilarang, apakah mereka akan tergantung selamanya kepada orang tua mereka? Rasanya tidak mungkin.

Setiap anak akan tumbuh fisik, jiwa, dan keterampilan motorisnya sejalan dengan usianya. Mereka harus sanggup mengatasi hidup mereka, sehingga proses keterampilan motorisnya harus dibiarkan berkembang tanpa hambatan.

Kekhawatiran orang tua dan guru yang berlebihan akan menghambat kebebasan dan perkembangan motoris anak. Padahal jika sampai anak tidak memiliki kemampuan tersebut, rugilah dia.

Anak-anak pantai atau di tepi danau, mereka harus memiliki keterampilan berenang. Anak-anak di gunung mereka harus memiliki keberanian menaklukkan lembah dan ngarai. Anak-anak di desa mereka harus memiliki keberanian menaiki pohon dan lain-lain.

Mereka akan belajar dari alam; mengasah keberanian untuk dapat mengatasi alam dan akhirnya mampu bersahabat dengan alam. Semua itu berawal dari berbagai keinginan mereka, yakni ingin tahu, ingin mencoba, ingin bebas, ingin merasakan, dan keinginan-keinginan yang lainnya.

Maka biarkan mereka mencoba. Yang penting orang tua harus bisa menjadi pendamping yang baik. (Riyadi, pendidik di Sekolah Dasar Negeri 1 Kediri, Karanglewas, Banyumas, Jawa Tengah,  pemerhati pendidikan anak, dan pegiat literasi di KOMPAK)