Rabu, 29 March 2017

Usia PAUD

Menghadapi Anak yang Suka Mengamuk

13 Mar 2017 16:22:13


Menghadapi Anak yang Suka Mengamuk

SAHABAT KELUARGA - Saat anak saya berusia tiga tahun, sering sekali mengamuk. Anak ayah bunda, mungkin pernah mengalami tiba-tiba anak yang begitu manis dan lucu mengamuk sejadi-jadinya. Menangis keras, kadang berguling-guling di lantai pada saat keinginanya tidak terpenuhi.

Ayah bunda bertambah bingung campur malu apabila hal ini terjadi di depan umum. Dinasehati anak semakin keras tangisannya, dibiarkan menangis susah untuk berhenti. Ayah bunda pun dihadapkan pada pilihan haruskah keinginan anak dituruti atau tidak?

Kejadian di atas adalah gambaran emosi anak yang menunjukkan perilaku tantrum, yakni ledakan emosi yang kuat (biasa terjadi pada masa anak-anak usia dua sampai lima tahun). Emosi ini tidak terkontrol dengan baik sehingga menimbulkan perilaku berlebihan, seperti berguling-guling, memukul, berteriak keras. Ini terjadi baik pada anak laki-laki maupun anak perempuan.

Untuk mengatasi perilaku anak yang demikian, ada beberapa hal yang hendaknya dilakukan ayah bunda:

1. Mengabaikan anak jika perilaku anak tantrum berlebihan. Ayah bunda tetap bersikap tenang, dalam menghadapi kemarahan anak. Nasihat dan bujukan biasanya tidak efektif untuk anak yang tantrumya sudah berlebihan. Anak tidak akan mau mendengar apa yang dikatakan orang tua, anak terkadang tangisannya semakin kuat.

2. Hindari kepanikan menghadapi anak yang kemarahan dan tangisnya semakin menjadi.

3. Bawa atau ajak anak ke tempat khusus (contoh kamar), tunggu sampai anak tenang, beri minum anak. Baru kemudian anak diajak komunikasi dengan lembut.

4. Jika hal ini sering terjadi di luar rumah (misal di pusat perbelanjaan), mulailah untuk membuat kesepakatan dengan anak apa yang boleh dibeli dan apa yang tidak akan dibeli sebelum pergi ke toko.

5. Beri penjelasan pada anak bahwa tidak semua keinginannya harus dipenuhi pada saat itu juga.

6. Ayah bunda hendaknya konsisten dalam mengambil tindakan pada anak. Hindari rasa tidak tega dan perasaan kasihan. Jika ayah bunda tidak konsisten, maka anak dapat memanipulasi keinginanya (dengan ’senjata’ tangis).

Namun ayah bunda, berbeda sekali ketika kita menghadapi anak yang meluapkan emosinya karena ketidakmampuannya mengungkap secara verbal apa yang menjadi keinginanya. Untuk anak yang demikian maka ayah bunda hendaknya membantu anak mengungkapkan perasaan atau keinginannya, bukan dengan mengabaikannnya. Misal, “Adik mau bermain dengan kakak atau ibu?”

Jika ayah bunda menemui anak yang mengalami tantrum karena anak kelelahan, mengalami kekecewaan atau anak dalam keadaan frustrasi, ajaklah anak ke tempat yang lebih nyaman. Peluklah dan ucapkan kata-kata yang menghibur anak.

Anak usia dua sampai lima tahun mengalami masa perkembangan emosi yang belum mampu mengontrolnya. Sebab itu ayah bunda perlu membantunya agar anak mampu mengolah emosi secara baik sehingga anak tidak menjadi temperamental dan mampu mengurangi perasaan-perasaan yang tidak enak pada diri anak. Semoga bermanfaat. (Sikhah - Pendidik pada Taman Kanak-kanak Pertiwi Bobosan, Purwokerto Utara)